Sabtu, 04 April 2015

Generasi Infotainment

gosip.
ah sudahlah.

akhir-akhir ini entah kenapa lingkunganku bikin ngga nyaman banget.
semenjak istilah baper booming, tiba-tiba aja baper jadi wabah ke semua orang.
dikit-dikit baper.
dikit-dikit dibilang baper.
ya-e-la.

mau bersikap kayak gini, bersikap kayak gitu, dipantau terus.
berasa kayak ada CCTV dimana-mana.
tapi mending ya CCTV mah diem aja, la yang ini? malah digosipin, diomongin sesuai dengan spekulasi masing-masing orang.

sebenernya, kejadian akhir-akhir bikin aku pribadi intropeksi buat ngga ngurusin urusan orang lain. buat ngga mengomentari urusan orang lain yang emang aku ngga tau benernya gimana.
selama ini aku juga ngga biasa nge-judge orang cuman dari satu sisi aja. aku pasti nyari sisi-sisi yang lain karena aku yakin ngga ada yang bener-bener salah atau ngga salah sama sekali.
tapi aku juga bukan tipe orang yang bisa jaga perasaan. aku bakal bilang segala sesuatu sejujur-jujurnya walaupun yah emang lisan adalah pedang yang paling tajam.
aku sering banget dibilang jahat, jutek karena dari lisanku yang blak-blakan. tapi, sekarang aku udah mulai belajar. mulai berhijrah gimana jaga lisan terutama tentang urusan orang lain yang aku taunya cuman dari bisik-bisik tetangga. jaga lisan dari kata-kata yang mungkin menyakiti.

sedangkan lingkunganku bersikap berbeda. aku ngga tau kenapa, akhir-akhir ini orang pada suka ngurusin masalah orang lain. kayak misalnya nih pas orang-orang pada tau kalo aku putus,
"eh kamu kenapa kok putus?"
pertanyaan sesederhana "kenapa" butuh jawaban yang ngga sesederhana pertanyaannya.
kalo dijawab kok ya bikin jadi keinget, kalo ngga dijawab malah jadi omongan sana sini dengan berbagai versi. repot.

ngga ada orang yang baik-baik aja pas kehilangan orang yang dia sayang. mereka pasti butuh proses buat nyembuhin sakitnya, buat bangkit dari lukanya. tapi kenapa, lingkungan malah seakan ingin tau tentang sakit itu? tentang luka itu? untuk apa? hanya untuk sekedar tau dan memuaskan nafsu keingin tauan itu aja? sedih.

dari kajian via WA yang sempet aku baca, aku belajar tentang sesuatu. tentang mengkritisi kehidupan seseorang. dulu aku seneng banget kalo ada temen yang curhat ke aku tentang masalah mereka. aku bakal dengan senang hati ngasih semangat, saran, kritikan, yang aku KIRA pada saat itu adalah sikap yang paling bijak. dengan berempati terhadap perasaan yang sedang dia rasakan, dengan memberi komentar yang seakan bikin dia nyaman karena merasa perasaannya dipahami, tapi disatu sisi yang lain lisannku bisa ngerubah pemikirian atau bahkan perasaan orang itu.
di kajian itu dianalogikan kayak gini,

"ada seorang kakek tua yang hidup sendiri. semua anaknya sudah merantau dan sukses di tanah rantaunya. tapi anak-anaknya jarang sekali menghubungi beliau. meskipun demikian kakek tersebut tetap berbaik sangka dan selalu mendoakan keselamatan serta kebahagiaan anak-anaknya. beliau selalu berpikir bahwa anak-anaknya adalah titipan Allah dan beliau tidak mempunyai hak penuh atas kehidupan mereka. hingga pada suatu saat, datanglah seorang tetangga dari kakek tersebut. melihat kondisi kakek yang semakin renta tanpa ada kepedulian dari anak-anaknya membuat si tetangga merasa iba dan berkata, apakah anak-anakmu tidak pernah menghubungimu? apakah mereka sudah melupakan jasa-jasamu sebagai orang tua yang telah membesarkan mereka dari timangan hingga sekarang? aku turut bersedih akan keadaan kakek sekarang. dari kata-kata tetangga yang "seolah-olah" ikut berempati dengan keadaan kakek, malah membuat keikhlasan dan rasa lapang dada kakek hilang seketika. keikhlasan itu berubah menjadi prasangka buruk kepada anak-anaknya"

dari cerita itu aku nyadar, sering kita kayak gitu pas dicurhatin sama orang. merasa kita tau gimana perasaan dia, mengira kata-kata kita menyemangati dia karena merasa dipahami, tapi padahal lisan kita malah seperti bensin yang disiramkan ke api. semakin membakar. semakin berkobar.
sekarang kalo aku dicurhatin sama orang lain, aku kudu mikir-mikir bilang apa. aku takut malah bikin dia inget sama sakitnya, takut dia semakin ngga ikhlas, pokoknya semakin ngga baik lah.


terkadang aku malah memilih buat "no comment".    

buat siapapun sekarang yang sedang merasa sedih, yang sedang merasa menjadi orang yang tersakiti, yang sedang merasa dikhianati, ikhlaskan. semua yang terjadi itu proses pembelajaran. jangan mencari pundak untuk bersandar, buatlah tempat sujud sebagai tempat untuk mengadu. jangan mencari tangan untuk menggenggam erat, buatlah tanganmu menengadah untuk berharap ampunan. 

 


2 komentar:

  1. tambahin ini ukhti :)

    اللَّهُمَّ إنِّي أعُوذُ بِكَ مِنَ البُخْلِ، وَأَعوذُ بِكَ مِنَ الجُبْنِ، وَأعُوذُ بِكَ أنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ العُمُرِ، وَأعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ
    "ALLAHUMMA INNI A'UUDZU BIKA MINAL BUKHLI WA A'UUDZU BIKA MINAL JUBNI WA A'UUDZU BIKA MIN AN URADDA ILAA ARDALIL 'UMURI WA A'UUDZU BIKA MIN FITNATID DUNYA WA ADZAABIL QABRI
    “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kebakhilan, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut, aku berlindung kepada-Mu dari kepikunan, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan siksa kubur.”

    semoga kita selalu berada dalam hidayah-Nya, aamiin :))

    BalasHapus
  2. alhamdulillah akhirnya PRmu done nak haha lanjutkan :p

    BalasHapus