Jumat, 10 Agustus 2012

ayah


ayah

ketika mikirin ayah yang terlintas di pikiranku adalah sosok lelaki “asing” yang sangat disiplin dan “keras”.
kenapa “asing”? dari aku kecil, ayah jarang ada di rumah. maklum dulu ayah bekerja disalah satu perusahaan pertambangan yang mengharuskan ayah menetap di sana. ayah jarang pulang. sangat mudah dihitung pada saat itu. kalau ayah tidak pulang ke rumah, kami (ibu, kakak, dan aku) pergi mengunjungi ayah di sana. dari foto-foto bayiku yang aku temu di album, beberapa di antaranya berisi pesan di baliknya. seperti “sun kangen, mike” dan hal-hal semacam itu. ibu biasa menambahkan tanda tangan berinisial mike. mungkin untuk mewakili tanda tanganku :’D
aku ngga begitu ingat masa kecilku sama ayah karena jarang sekali ada waktu yang dihabiskan bersama.

ayah sangat menjunjung tinggi sebuah keteraturan. mulai dari yang paling mendasar sampai yang sepele. dari dimana kita harus meletakkan suatu barang sampai bagaimana kita (anak-anaknya) mencapai target yang beliau inginkan.
pernah dulu, waktu ingusku masih beleleran sana sini, aku “menuntut” pada ayah.
“temanku kalau naik kelas selalu dapat hadiah dari orang tuanya yah” kataku merajuk.
tanpa memalingkan sebentar saja muka ayah dari buku yang dibacanya, tanpa berusaha melirikku sedikit saja melalui ekor matanya, ayah menjawab dengan tenang,
“naik kelas itu kewajiban. bukan prestasi”
jleb. aku terdiam dan pergi menjauh. pada saat itu aku ngerasa kecewa. namanya juga gadis cilik, siapa yang ngga suka sama iming-iming suatu hadiah?


keluargaku terbilang berkecukupan. mulai dari kecil aku sudah merasakan berbagai fasilitas yang diberikan. mulai dari kasih sayang, perhatian (yang sangat jarang ditampakkan ayah secara gamblang), rumah yang nyaman, baju-baju bagus, sarana hiburan, pendidikan yang layak dan terbaik, makan dan minum dengan baik, dan masih banyak lagi.
dari SD sudah ada fasilitas komputer di rumah, antar jemput ayah memakai mobil, tapi tetap saja aku selalu merasa kurang puas dengan semua yang diberikan.
aku masih banyak menuntut. entah uang saku yang ku anggap kurang, entah mainan yang ku anggap kurang up to date, entah baju yang aku rasa sudah kuno, dan banyak lagi tuntutanku.
beranjak SMP dan SMA, tetap saja aku belum berubah. aku merengek seperti balita, minta ini itu, membangkang, bersikap masa bodoh dengan nasehat ayah, bahkan mengecewakan berkali-kali dengan susahnya aku diatur.
aku semakin menjadi-jadi.
menjadi gila.

pas aku SMA ayah jarang sekali menasehatiku secara langsung. ayah selalu berbicara pada ibu agar “menyampaikan” nasehatnya. pada saat-saat itulah aku merasa semakin asing dengan sosok ayah. saat itu aku pulang larut malam, aku terlalu menyibukkan diri dengan kegiatanku di luar. aku tau ayah marah, tapi ayah marah ke ibu bukan ke aku. kemudian, barulah ibu “menyampaikan” marah ayah padaku. bukannya merasa bersalah, aku malah menjawab dengan enteng,
“toh yang salah aku, kenapa bilangnya ke ibu? kalau emang aku salah, ngga boleh keluar ya bilang sendiri ke aku. ngga usah lewat ibu”.
beberapa kali jawaban itulah yang aku andalkan. sampai ibu bilang,
”kamu mau di ijinkan atau enggak ya tetap tidak nurut kan? tetap saja urusan di luar yang terpenting?”
dan lagi-lagi jleb.

sampai saat aku masuk kuliah, aku sadar betapa bodoh dan durhakanya aku selama ini.
awalnya aku dapet kesempatan ikut SNMPTN undangan. Alhamdulillah, batinku. aku ngga perlu lagi bersusah payah ikut berbagai macam bimbingan belajar. setiap hari aku ke sekolah hanya sekedar untuk menghabiskan waktu dengan ngobrol, bermain, dan sebagainya.
sampai tenyata, aku tidak lolos dalam SNMPTN undangan. padahal aku sangat menggantungkan pada itu. kalang kabut aku mendaftar SNMPTN tulis. pontang-panting belajar untuk mengejar ketinggalan. H-7 aku baru membeli buku-buku kumpulan soal SNMPTN, aku baru tau model-model soal TPA yang mungkin muncul, aku depresi.
aku hanya yakin Bismillah saat mulai mengerjakan soal, dan yakin Alhamdulillah saat bel tanda usai berdering. aku sepenuhnya pasrah.
ketika hari pengumuman, aku sudah pesimis. karena melihat pengumumannya aku harus online, terpaksalah aku ke warnet karena modem di rumah habis. dengan berbekal uang 5ribu dan handphone, aku melenggang ke warnet. ternyata aku perlu memasukkan no pendaftaran SNMPTN tulis, sedangkan aku tidak membawa apa-apa. perasaanku semakin ngga karuan. setelah menghubungi orang rumah, datanglah adikku membawakan kartu peserta SNMPTN tulis. Bismillah, dan klik. rasanya aku mau nangis ketika melihat tulisan,
”selamat anda berhasil”
mataku panas. tapi aku menahannya dan berusaha menjaga imej di warnet, haha
awalnya aku berusaha sok stay cool pas mau menyampaikan berita itu ke orang tuaku. tapi ternyata ngga bisa. aku malah senyum-senyum geje.
masuk rumah aku langsung cium tangan ayah-ibu. beliau berdua terlihat kaget. ya mungkin mereka mengira aku kesambet setan di jalan, haha
“Alhamdulillah keterima pilihan pertama” 
ayah hanya tersenyum. ya senyum saja. tanpa kalimat selamat atau apa pun keluar dari bibirnya. dan aku baru menyadari, ayahku memang sosok lelaki yang tidak pernah mengekspresikan perasaannya. ayahku jaim sekali :D
namun terlihat gurat bangga pada wajah ayah. gurat wajah yang jarang sekali aku torehkan selama ini. 


dan  waktu aku mengurus daftar ulang, kulihat angka 2juta sekian tertera pada lampiran yang harus aku bayarkan untuk “biaya lain-lain”.
tanpa banyak bicara, keesokan harinya ayah langsung memberiku uang sejumlah tersebut.
masalah daftar ulang beres.
kemudian datanglah biaya masuk kuliah. tertera angka yang hampir menyentuh angka 11juta.
dan sekali lagi, tanpa banyak bicara keesokan harinya ayah menenteng amplop dan buku tabungan ayah di tangannya ketika pulang ke rumah. ayah cuman bilang,
“bayarkan sendiri ya. atau minta antar mbak nuse”
rasanya aku pingin nangis, pengen meluk ayah, pengen sungkem, pengen minta maaf, tapi aku cuman bisa diem.
aku tau ayah ngga butuh itu semua. ayah cuman butuh aku nurut, berbakti sama ayah.


aku sadar kalo selama ini tu ayah ngajarin anak-anaknya hidup sederhana.
biarpun ada uang, tapi ngga baik kalo kita foya-foya buat hal yang ngga penting. masih ada hal yang lebih penting di depan. hidup masih panjang dan kita perlu persiapan buat nantinya.
aku baru sadar kenapa ayah “keras” ke anak-anaknya. ayah cuman pengen kita siap dengan kehidupan di luar sana. ketika kita udah keluar dari zona nyaman orang tua kita.
aku aja yang selama ini egois sama apa yang aku mau. aku masih bersifat kayak anak kecil padahal udah ngga seharusnya aku kayak gitu.
aku nyesel. nyeseeeeeeeeeeeeeeeeeeeeel banget!
sekarang, aku cuman berusaha jadi mike yang baru. aku bakal buktiin kalo apa yang ayah korbanin selama ini bakal ada hasilnya. aku mau lihat wajah itu lagi! wajah bangga itu!
dalam sepi malam, kutangisi kebutaanku selama ini, ku untai doa,
“Ya Allah Yang Maha Pengasih, hamba panjatkan syukur yang tiada habisnya atas hidayah yang Engkau turunkan sehingga hamba bisa membuka mata dan hati hamba yang selama ini ditutupi debu dosa. Ya Allah Yang Maha Pengampun, ampunilah dosa hamba, dosa kedua orang tua hamba. dosa yang sengaja, maupun dosa yang terselip di dalam khilaf. Ya Allah Yang Maha Pemurah dan Penyanyang, sayangi mereka seperti mereka menyayangi hamba disaat kecil. berilah kedua orang tua hamba umur yang panjang dan barokah. biarkanlah hamba berkesempatan menyenangkan mereka dengan hasil keringat hamba. hamba sadar apa yang sudah dilakukan orang tua hamba sampai sekarang ini tidak akan pernah bisa hamba bayar dengan apa pun. tidak juga dengan nyawa hamba. tapi biarkan hamba memberi sedikit saja dari apa yang hamba punya.
Ya Allah, berilah hamba-Mu kesempatan itu. Amin”





di bendungan selorejo

di Batu Secret Zoo

2 komentar:

  1. Hanya senyuman yang bisa aq berikan..
    Selamat untuk pelajaran kedewasaanmu ini ya,
    Semoga kamu memegang penuh keinginanmu ini,
    jangan berbalik saat kamu sudah sukses nanti :)

    BalasHapus